Asertivitas Perokok Pasif Ditinjau dari Tingkat Pengetahuan tentang Rokok dan Jenis Kelamin

Authors

  • Rachmawati Rachmawati Sriwijaya University
  • Amalia Juniarly
  • Nurul Izati

DOI:

https://doi.org/10.26740/jptt.v8n2.p91-100

Keywords:

Asertivitas, perokok pasif, pengetahuan tentang rokok, jenis kelamin

Abstract

The purpose of this study is to examine the difference of passive smokers assertiveness in terms of their knowledge level of cigarette, and their sexes. The hypothesis is that there is a difference of passive smokers assertiveness in terms of their knowledge level of cigarettes, and their sexes. The sample of this study was 314 people divided into 157 male passive smokers and 157 female passive smokers. All participants are living in Palembang city, South Sumatra. Two instruments were used to collect data, namely the scale of assertiveness and the questionnaire of the level of cigarette knowledge. Data were analyzed using one-way anova and t-test. The result shows that there is a significant difference of passive smokers assertiveness in terms of the cigarette knowledge level, with p = 0,000 (p <0,05). Likewise, there is a significant difference of assertiveness between male and female passive smokers, with p = 0,000 (p <0.05). Thus, the hypothesis of this study is accepted.

Key words: Assertiveness, passive smoker, knowledge of cigarettes, sex.

Abstrak: Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan asertivitas perokok pasif ditinjau dari tingkat pengetahuan tentang rokok dan jenis kelamin. Hipotesis penelitian yaitu ada perbedaan asertivitas perokok pasif ditinjau dari tingkat pengetahuan tentang rokok dan jenis kelamin.. Sampel penelitian adalah 314 orang yang terbagi menjadi 157 orang perokok pasif laki-laki dan 157 perokok pasif perempuan. Seluruh partisipan adalah warga kota Palembang, Sumatera Selatan. Alat ukur yang digunakan adalah skala asertivitas dan angket tingkat pengetahuan tentang rokok. Analisis data menggunakan one-way anova dan t-test. Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan yang signifikan asertivitas perokok pasif ditinjau dari tingkat pengetahuan tentang rokok dengan nilai p=0,000 (p<0,05) dan ada perbedaan yang signifikan antara asertivitas perokok pasif laki-laki dan asertivitas perokok pasif perempuan, dengan nilai p=0,000 (p<0,05). Dengan demikian, hipotesis penelitian ini dapat diterima.

Author Biography

Rachmawati Rachmawati, Sriwijaya University

program studi psikologi fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya

References

Adliyani, Z. O. N. (2015). Pengaruh Perilaku Individu terhadap Hidup Sehat. Majority, 4 (7), 109-114.

Anindyajati, & Karima. (2004). Peran Harga Diri terhadap Asertivitas Remaja Penyalahguna Narkoba (Penelitian pada Remaja Penyalahguna Narkoba di Tempat Rehabilitasi Penyalahgunaan Narkoba). Jurnal Psikologi, 2 (1), 49-64.

Aryaningrat, & Marheni. (2014). Hubungan antara Intensitas Quality Time Ibu dan Anak dengan Asertivitas Remaja di Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan. Jurnal Psikologi Udayana,1 (3), 389-399.

Astuti, S., Susanti, A. I., & Elista, R. (2016). Gambaran Paparan Asap Rokok pada Ibu Hamil Berdasarkan Usia Kehamilandi Desa Cintamulya Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Jurnal Sistem Kesehatan, 2 (1), 22-27.

Aspropoulus, E., Lazarus, L., Rodafinos, A., & Eiser, J. R. (2010). Can you please put it out? Predicting non-smokers assertiveness intentions at work. Tob Control,19, 148-152. DOI:10.1136/tc.2009.031161.

Chusna, T. (2011). Perbedaan Tingkat asertivitas Pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang Ditinjau Dari Jenis Kelamin. Malang: Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Diperoleh pada 20 Mei 2017 dari: http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/BK-Psikologi/article/view/14740

Fajriwan, & Jusuf, A. (1999). Merokok Pasif. Jurnal Resir Inda, 19 (1), 22-26. Diperoleh pada 10 Mei 2017 dari: http://jurnalrespirologi.org/wp-content/uploads/2015/05/JRI-19-1-22-26.pdf.

Jati, G. W., & Yoenanto, N. H.. (2013). Kecerdasan Emosional Siswa Sekolah Menengah Pertama ditinjau dari Faktor Demografi. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, 2 (2), 109-123.

Kaufman, M. R., Merrit, A. P., Rimbatmaja, R., & Cohan, J. E. (2015). ˜Excuse me, sir. Please dont smoke here. A qualitative study of social environtmen of smoke-free policies in Indonesia. Health Policy and Planning, 30, 995-1002. DOI:10.1093/heapolczu103.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok. Diperolah pada 20 Oktober 2017 dari: http://www.depkes.go.id/ resources/download/promosi-kesehatan/pedoman-ktr.pdf.

Khan, R. I. (2012). Perilaku Asertif, Harga Diri dan Kecenderungan Depresi. Persona Jurnal Psikologi Indonesia,1 (2), 143-154.

Lazarus, L., Zlatey, M., Rodafinos., & Eiser, J. R. (2012). Smokers complience with smoke-free policies, and non smokers assertiveness for smoke-free air in the workplace; a study from the Balkans. International Journal Public Health, 57, 769-775. DOI:10.1007/s00038-012-0338-0.

Nugroho, P. (2016). Bahaya Asap Rokok bagi Perokok Pasif. Panduan BPJS.com: Jembatan Menuju Kesejahteraan Rakyat. Diakses pada 15 Mei 2017 dari: https://www.panduanbpjs.com/bahaya-asap-rokok-bagi-perokok-pasif/

Pradono, J., & Kristianti, C. M. (2003). Perokok Pasif Bencana yang Terlupakan. Buletin Penelitian Kesehatan,31 (4), 211-222.

Pratiwi, W. (2015). Pengaruh Budaya Jawa dan Harga Diri terhadap Asertivitas pada Remaja Siswa Kelas X di SMA Negeri 3 Ponorogo. eJounal Psikologi, 3 (1), 348-357.

Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 7 Tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Purnama, A., Arjanggi, R., & Setiowati, E. A. (2013). Pengaruh Pelatihan Asertivitas dalam Meningkatkan Perilaku Asertif Remaja Perokok Pasif. Proyeksi, 8 (1), 47-62.

Rafikasari, D. (2015, Mei). Tegur Perokok Aktif Agar Tak Menjadi Perokok Pasif. Diperoleh pada 20 Oktober 2017 dari: https://lifestyle.sindonews.com/Sindonews.com.

Sari, P. R., Rejeki, T. A., & Mujab, A. M. (2006). Pengungkapan Diri Mahasiswa Tahun Pertama Universitas Diponegoro ditinjau dari Jenis Kelamin dan Harga Diri. Jurnal Psikologi Univesitas Diponegoro,3 (2), 11 27.

Siska, W. (2016). 35 Persen Penduduk Perokok Aktif. Diperoleh pada 20 Mei 2017 dari: http://www.sumeks. co.id/.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitiatiif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sulisdiana. (2011). Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Pengetahuan Ibu tentang Regurgitasi pada Bayi Usia 0 6 Bulan di BPS Muji Winarnik Mojokerto. Hospital Majapahit: Jurnal Kesehatan Politeknik Kesehatan Majapahit, 3 (1), 15 28.

Susilawati, D. (2016). Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal dan Asertivitas terhadap Perilaku Seks Pranikah pada Remaja. Psikoborneo, 4 (4), 688-701.

Tobacco Control Support Center Ikatan Ahli Kesahatan Masyarakat Indonesia (TCSC IAKMI) (2008). Perlindungan terhadap Paparan Asap Rokok Orang Lain: Mengapa Perlu? Paket Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok: Pedoman untuk Advokator. Diperoleh pada 23 Juni 2017 dari: http://tcsc-indonesia.org/wp-content/uploads/2012/09/KTR_Kit_Seri_1_Perlindungan_terhadap_paparan_Asap_Rokok_orang_Lain_MENGAPA_PERLU_.pdf.

UndangUndang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

World Health Organization (WHO) (2017). Constitution of the World Health Organization: Principles. Diperoleh pada 20 Juni 2017 dari: http://www.who.int/governance/eb/who_constitution_en.pdf.

Downloads

Published

2018-03-26
Abstract views: 1495 , PDF Downloads: 2866