WAJAH “RYONEN” DALAM PUISI “BIARA” KARYA A. MUTTAQIN

wawan setijawan, Andik Yulianto

Abstract


Karya sastra puisi merupakan bentuk karya yang mengung­kapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan kontemplatif. Puisi mewakili pikiran dan perasaan penulis yang diungkapkan melalui balutan kuasa bahasa terbentuk struktur fisik dan batin penulis lewat bahasa tertentu. Kekuatan bahasa itulah yang dapat memediasi komunikasi antara penyair sebagai penulis dengan pembaca puisi. Lagi, sifat bahasa puisi memang cenderung simbolik dengan perlambangan tertentu sehingga hal ini menjadikan puisi memiliki rasa dan sensasi berbeda dengan karya sastra lain seperti cerpen dan novel.  Seringkali bahkan seorang penyair menggunakan permainan simbolisme tidak dengan kata tetapi juga dengan angka dan bentuk lain seperti gambar-gambar tertentu maupun grafik tertentu untuk menarik pembaca. Salah satu puisi yang menarik untuk ditelisik cabang makna yang berkait dengan cerita lain di belahan dunia lain adalah puisi A. Muttaqin. Penyair ini mengulik wajah Ryonen dalam sebuah citraan tertentu yang akan diungkap dalam tulisan singkat ini. Tampaknya, ada petunjuk pengakuan pada pernyataan Ryonen, yang kemudian juga dipuisikan oleh A. Muttaqin. Perilaku seorang murid dengan gurunya menapaki perjalanan tersendiri yang menarik untuk dipahami lewat puisi A. Muttaqin. Terdapat lapis-lapis derita yang dialami oleh Ryonen dari saat kunjungan pertama, kedua, ketiga, hingga keenam. Pada kunjungan ke tujuh, ada simbolisasi yang menunjuk bahwa Ryonen sudah sampai pada neraka ke tujuh, untuk akhirnya sampai pada surga lapis pertama. Artinya adalah “kebahagiaan”  (kalaupun dia mau menerimanya) telah dan akan selalu melimpahi dirinya. Bait ke 7 dan ke 14 dapat mengisahkan hal di atas. Makna yang cukup kuat tersirat adalah adanya semacam obsesi yang selalu menjadi penanda bahwa manusia selalu dihantui oleh beragam kenikmatan baik jasmani maupun rohani bahkan sampai di dunia sana. Kenikmatan-kenikmatan itu, mulai dari yang kasar sampai yang halus, yang rendah sampai yang tinggi, telah digambarkan dalam lapis-lapis neraka dan lapis-lapis sorga yang berorientasi pada angka tujuh yang mewakili tujuh jenjang kenikmatan. Dapat dikatakan bahwa dunia biara adalah dunia surga, karena getaran atmosfernya teramat halus. Apabila seseorang masuk ke suatu wilayah tempat suci terasalah kebahagiaan tertentu yang berbeda kalau seseorang berada di tempat belanja. 


Full Text:

PDF

References


Alcyone. 1910. At The Feet of The Master. Adyar: Pustaka Theosofi.

Blackstone, Judith & Zoran Josipovic. 2001. Zen untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.

Chadwick, David. 1999. The Life and Zen Teaching of Shunryu Suzuki Crooked Cucumber. New York: Broadway.

De Mello, Anthony. 2002. Doa Sang Katak (II). Yogyakarta: Kanisius.

Legget, Trevor. 1984. A First Zen Reader. Tokyo: Charles E. Tutrtle Company, I nc.

Muttaqin, A. 2016. Dari Tukangkayu Sampai Tarekat Lembu. Surabaya: Delima.

_______. 2016. “Biara”. Surabaya: Jawa Pos Minggu. 6 November.

Miura, Isshu & Ruth Fuller Sasaki. 1965. The Zen Koan Its History and Use in Rinzai Zen. Kyoto: The First Zen Institut of America.

Sangharakshita, Y. A. Maha Stavira. 1991. Zen Inti Sari Ajaran. Jakarta: Pustaka Karaniya.

Sheng-Yen, Chan Master. 1997. Kebijakan Zen Pengetahuan dan Tindakan. Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya.

Soepardjo, Djodjok & Wawan Setiawan. 1999. Budaya Jepang Masa Kini (Kumpulan Artikel). Surabaya: Bintang. Kerja Sama SYLFF & IKIP Surabaya.

Suzuki, Shunryu. 2007. Zen is Right Here. Bosto & London: Shambhala.




DOI: http://dx.doi.org/10.26740/jpi.v3n1.p84-99

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


This work is licensed under CC BY-SA

© All rights reserved 2017. Jurnal Pena Indonesia, ISSN: 2477-5150, e-ISSN: 2549-2195