Gender Differences in Quarter-Life Crisis among Migrant Generation Z

Authors

  • Ervira Febriati Universitas Negeri Surabaya
  • Damajanti Kusuma Dewi Universitas Negeri Surabaya
  • Riza Noviana Khoirunnisa Universitas Negeri Surabaya

Keywords:

Quarter-life crisis, Generasi Z, migran, perbedaan gender, adaptasi psikologis

Abstract

The phenomenon of quarter-life crisis is increasingly relevant among Generation Z, who grow up amid rapid technological advances and social dynamics that demand swift adaptation. For those living away from home, early adulthood presents a dual challenge: personal development demands alongside adjustment to a new environment. This situation may trigger emotional distress, identity uncertainty, and heightened vulnerability to a quarter-life crisis. This study aims to examine the differences in quarter-life crisis among migrant Generation Z based on gender. A comparative quantitative design was employed with 384 participants (192 males and 192 females) selected through purposive sampling according to predetermined criteria, namely being 18–28 years old and currently living away from home. Data were collected using an online questionnaire distributed via Google Forms. The measurement instrument used was the Quarter Life Crisis Scale developed by Afandi et al. (2023). Data were analyzed using the Mann–Whitney U test after conducting normality and homogeneity tests. The results showed a significant difference in quarter-life crisis between males and females (U = 13,893, Z = –4.177, p < 0.001). Females reported a higher level of quarter-life crisis compared to males. These findings highlight the importance of considering gender aspects in providing psychological support for migrant Generation Z experiencing a quarter-life crisis.

Abstrak

Fenomena quarter-life crisis semakin relevan di kalangan Generasi Z, yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi yang pesat dan dinamika sosial yang menuntut adaptasi cepat. Bagi mereka yang tinggal jauh dari rumah, masa dewasa awal menghadirkan tantangan ganda: tuntutan pengembangan pribadi bersamaan dengan penyesuaian terhadap lingkungan baru. Situasi ini dapat memicu gangguan emosional, ketidakpastian identitas, dan kerentanan yang lebih tinggi terhadap krisis seperempat abad. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan quarter-life crisis di kalangan Generasi Z migran berdasarkan jenis kelamin. Desain kuantitatif komparatif digunakan dengan 384 peserta (192 laki-laki dan 192 perempuan) yang dipilih melalui sampling purposif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, yaitu berusia 18–28 tahun dan saat ini tinggal jauh dari rumah. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner online yang didistribusikan melalui Google Forms. Alat ukur yang digunakan adalah Skala quarter-life crisis yang dikembangkan oleh Afandi dkk. (2023). Data dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney U setelah melakukan uji normalitas dan homogenitas. Hasil menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam krisis seperempat abad antara laki-laki dan perempuan (U = 13.893, Z = –4,177, p < 0,001). Perempuan melaporkan tingkat krisis quarter-life yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Temuan ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan aspek gender dalam memberikan dukungan psikologis bagi generasi Z migran yang mengalami quarter-life crisis.

Downloads

Published

2026-01-31

How to Cite

Febriati, E., Dewi, D. K., & Khoirunnisa, R. N. (2026). Gender Differences in Quarter-Life Crisis among Migrant Generation Z. Asean Journal of Self & Psychological Measurement, 1(01), 13–22. Retrieved from https://journal.unesa.ac.id/index.php/ajspm/article/view/50430
Abstract views: 20 , PDF Downloads: 10