TUTURAN TABU DALAM FILM JEPANG TENTANG REMAJA

Authors

  • Husnul Hamidiyah

DOI:

https://doi.org/10.26740/paramasastra.v1n1.p%25p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji informasi mengenai tuturan yang dianggap tidak  sopan dan dapat membedakan bentuk, motif, fungsi, konteks emotif, dan strategi x-femisme pada penggunaan tuturan tabu dalam  situasi percakapan bahasa Jepang. Penelitian ini berlandaskan pada teori para ahli linguistik yaitu Allan dan Burridge (2006), Ullmann (2006), Searle (1975), Boeree (2006), Hughes (1991), Yonekawa (2008), dan Fargo (2009). Penelitian ini menggunakan metode telaah pustaka dan metode analisis deskriptif  kualitatif. Sumber data adalah film Jepang bertema tentang remaja yaitu  Confessions  (2010) karya Tetsuya Nakashima, Detroit Metal City  (2008) karya Toshio Lee, dan sekuel  Crows Zero (2007 dan 2009) karya Takashi Miike.Data penelitian ini berupa kalimat yang mengandung tuturan tabu  yang ditemukan sebanyak 70 data. Hasil pengklasifikasian dan analisis data menunjukkan bahwa (1) bentuk tuturan tabu dengan sistem ekskresi yaitu 1 data, organ tubuh yaitu 3 data, aktivitas seksual yaitu 5 data, kelainan seksual yaitu 2 data, kematian yaitu 2 data, pembunuhan yaitu 7 data, penamaan/ pengalamatan yaitu 13 data, tempat/ objek sakral/ religi yaitu 7 data, penyakit yaitu 2 data, hewan yaitu 6 data, fisik tidak ideal yaitu 1 data, mental di bawah normal yaitu 14 data, dan kotoran yaitu 7 data; (2) motif tuturan tabu dengan motif taboo of fear, yaitu 7 data, motif taboo of delicacy yaitu 11 data, dan motif taboo of propriety yaitu 52 data; (3) fungsi tuturan tabu dengan fungsi asertif yaitu 16 data, fungsi direktif yaitu 7 data, fungsi komisif yaitu 1 data, fungsi ekspresif yaitu 46 data, dan fungsi deklaratif nol data; (4) konteks emotif tuturan tabu dengan konteks keterkejutan yaitu 3 data, konteks ketakutan yaitu 4 data, konteks kemarahan yaitu 39 data, konteks kesedihan yaitu 7 data, konteks keinginan yaitu 7 data, konteks kebahagiaan yaitu 7 data, dan konteks kebosanan yaitu 3 data; (5) strategi x-femisme tuturan tabu dengan tipe disfemisme yaitu 27 data, ortofemisme yaitu 40 data, dan eufemisme yaitu 3 data. Hasil analisis dapat disimpulkan secara umum bahwa penggunaan tuturan tabu senantiasa didasari dengan latar belakang kebahasaan seperti bentuk, motif, fungsi, konteks emotif, dan strategi x-femisme. Kemudian, penggunaan tuturan tabu juga mempengaruhi keberhasilan komunikasi yang diharapkan antara penutur dan petutur.

Downloads

Published

2014-03-01

How to Cite

Hamidiyah, H. (2014). TUTURAN TABU DALAM FILM JEPANG TENTANG REMAJA. Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra Dan Pembelajarannya, 1(1). https://doi.org/10.26740/paramasastra.v1n1.p%p
Abstract views: 982 , PDF Downloads: 1387