Jurnalisme Negosiasi: Kebebasan Pers sebagai Strategi Keamanan yang Dinegosiasikan di bawah Relasi Kekuasaan Non-Negara di Madura, Indonesia

Penulis

  • Surokim Surokim Universitas Airlangga
  • Rachmah Ida Rachmah Ida Universitas Airlangga
  • Suko Widodo Suko Widodo Universitas Airlangga
  • Hamedi Mohd Adnan UCSI University, Kuala Lumpur
  • Moh. Hamzah Fansuri Universitas Trunodjoyo Madura, Bangkalan

DOI:

https://doi.org/10.26740/jsm.v10n2.p365-385

Kata Kunci:

negotiated journalism, non-state actors, local journalism, Press Freedom, Madura

Abstrak

Penelitian ini mengkaji strategi yang digunakan oleh jurnalis lokal di Madura, Indonesia, untuk mengelola dan menghadapi tekanan yang diberikan oleh entitas non-negara (stakeholders), yang meliputi blater, kader politik lokal, pemimpin agama (kiai), dan struktur kekuasaan informal lainnya. Penelitian ini secara teoritis didasarkan pada teori strukturasi Anthony Giddens, yang menguraikan interaksi antara agensi, struktur, sumber daya, dan kesadaran diskursif maupun praktis. Studi ini menyelidiki bagaimana jurnalis berupaya mempertahankan praktik profesional di tengah tekanan sosial-politik yang terus-menerus, sekaligus memastikan keamanan pribadi mereka. Temuan menunjukkan bahwa respons jurnalistik melampaui gagasan sederhana tentang mekanisme sensor diri, melainkan bermanifestasi sebagai strategi bertahan hidup yang beragam yang dapat dikategorikan sebagai bertahan hidup lunak, perlindungan relasional, dan perlawanan lunak bersyarat. Praktik-praktik yang muncul ini dikonseptualisasikan sebagai jurnalisme negosiasi. Paradigma ini mewakili mode produksi jurnalistik yang memprioritaskan keseimbangan antara pelaporan faktual, keselamatan pribadi, dan keberlanjutan penyebaran berita. Lebih lanjut, jurnalis terlibat dalam negosiasi internal dengan pimpinan redaksi mereka untuk mengoperasionalkan mekanisme bertahan hidup ini. Studi ini mengidentifikasi berbagai bentuk agensi jurnalistik, termasuk negosiator etis, penyintas pragmatis, dan penentang strategis, yang menggambarkan beragam kapasitas adaptif jurnalis dalam menghadapi lingkungan yang memaksa. Akibatnya, dikemukakan bahwa dalam konteks yang ditandai dengan paksaan informal dan kerentanan media, kebebasan pers tidak secara tegas didefinisikan oleh kemerdekaan absolut, melainkan sebagai negosiasi dinamis di mana pertimbangan keselamatan menjadi yang utama. Studi ini menyimpulkan bahwa wawasan ini tidak hanya berkontribusi pada pemahaman yang lebih bernuansa tentang kondisi yang berlaku di Madura, tetapi juga menerangi area-area kritis yang membutuhkan perhatian untuk revitalisasi profesionalisme jurnalistik di seluruh Indonesia.">Penelitian ini mengkaji strategi yang digunakan oleh jurnalis lokal di Madura, Indonesia, untuk mengelola tekanan yang diberikan oleh entitas non-negara, yang meliputi blater, kader politik lokal, pemimpin agama (kiai), dan struktur kekuasaan informal lainnya. Penelitian ini secara teoritis didasarkan pada teori strukturasi Anthony Giddens, yang menguraikan interaksi antara agensi, struktur, sumber daya, dan kesadaran diskursif maupun praktis. Studi ini menyelidiki bagaimana jurnalis berupaya mempertahankan praktik profesional di tengah tekanan sosial-politik yang terus-menerus, sekaligus memastikan keamanan pribadi mereka. Temuan menunjukkan bahwa respons jurnalistik melampaui gagasan sederhana tentang sensor diri, melainkan bermanifestasi sebagai strategi bertahan hidup yang beragam yang dapat dikategorikan sebagai bertahan hidup lunak, perlindungan relasional, dan perlawanan bersyarat. Praktik-praktik yang muncul ini dikonseptualisasikan sebagai jurnalisme negosiasi. Paradigma ini mewakili mode produksi jurnalistik yang memprioritaskan keseimbangan antara pelaporan faktual, keselamatan pribadi, dan keberlanjutan penyebaran berita. Lebih lanjut, jurnalis terlibat dalam negosiasi internal dengan pimpinan redaksi mereka untuk mengoperasionalkan mekanisme bertahan hidup ini. Studi ini mengidentifikasi berbagai bentuk agensi jurnalistik, termasuk negosiator etis, penyintas pragmatis, dan penentang strategis, yang menggambarkan beragam kapasitas adaptif jurnalis dalam menghadapi lingkungan yang memaksa. Akibatnya, dikemukakan bahwa dalam konteks yang ditandai dengan paksaan informal dan kerentanan media, kebebasan pers tidak secara tegas didefinisikan oleh kemerdekaan absolut, melainkan sebagai negosiasi dinamis di mana pertimbangan keselamatan menjadi yang utama. Studi ini menyimpulkan bahwa wawasan ini tidak hanya berkontribusi pada pemahaman yang lebih bernuansa tentang kondisi yang berlaku di Madura, tetapi juga menerangi area-area kritis yang membutuhkan perhatian untuk revitalisasi profesionalisme jurnalistik di seluruh Indonesia.

Referensi

This study explores the strategies local journalists use to respond to coercive influences exerted by non-state actors, including blater, local political cadres, Islamic religious scholars (kiai), and other informal power holders in Madura, Indonesia. Drawing on Giddens' structuration theory, the study examines the interplay among agency, structure, resources, and practical and discursive consciousness to understand how journalists maintain their professional activities under non-state coercion while safeguarding their personal safety. The findings indicate that journalists' responses to coercion extend beyond self-censorship to encompass complex survival strategies, including soft survival, relational defense, and conditional resistance. The study conceptualizes these emerging practices as negotiated journalism, a form of journalistic practice in which the pursuit of truth is continually balanced against personal safety and professional survival. Journalists also negotiate within their media organizations to facilitate these strategies. Three distinct orientations emerge: ethical negotiators, pragmatic survivors, and strategic resisters, illustrating different forms of journalistic agency and adaptation to coercion. In contexts characterized by informal coercion and journalistic precarity, press freedom is therefore understood as an ongoing negotiation between professional autonomy and personal safety. Finally, the study discusses the broader implications for media conditions in Madura and identifies considerations for strengthening journalistic practice across Indonesia

Diterbitkan

2026-10-20

Cara Mengutip

Surokim, S., Rachmah Ida, R. I., Suko Widodo, S. W., Hamedi Mohd Adnan, & Moh. Hamzah Fansuri. (2026). Jurnalisme Negosiasi: Kebebasan Pers sebagai Strategi Keamanan yang Dinegosiasikan di bawah Relasi Kekuasaan Non-Negara di Madura, Indonesia. The Journal of Society and Media, 10(2), 365–385. https://doi.org/10.26740/jsm.v10n2.p365-385
Abstract views: 35 , PDF Downloads: 30