GETAK MASK DANCE IN PAMEKASAN MADURA AS A MANIFESTATION OF PRABU BALADEWA FIGURE

Authors

  • Eko Wahyuni Rahayu Universitas Negeri Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.26740/sembadra.v3n1.p48-55

Abstract

Getak mask dance is one of traditional dances from Pamekasan, Madura. This dance depicts the bravery of a knight who is wandering and has a patriot spirit. This article aims to identify and record the existence of Getak Mask Dance both textually and contextually. It is because the existence of this dance has started to fade. Therefore, it is necessary to immediately record as an effort to preserve. Historically, the existence of Getak Mask Dance is closely related to the performance of œdramatari topeng dhalang Madura which is based on Mahabharata story. It is then developed to a part of Ludruk Sandur performance. Gethak Mask Dance is a manifestation of Balarama figure; a king in Madura Kingdom. Balarama is a character in wayang performance who is highly respected by Madurese people and considered as their ancestor. Textually, the choreography of Getak Mask Dance is in the form of a male single dance, he uses white mask and has a strong character. The dance movement pattern is very distinctive, supported by the sound of Kendang or drum which sounds œGe and œTak and the use of handkerchief property as a symbol of weapon.

Keywords: Getak Mask Dance, Pamekasan, manifestation, Baladewa figure

Author Biography

Eko Wahyuni Rahayu, Universitas Negeri Surabaya

Program Studi Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya, Indonesia

References

Fauzan, Rikza dan Nashar. 2017. œMempertahankan Tradisi, Melestarikan Budaya (Kajian Historis dan Nilai Budaya Lokal Kesenian Terebang Gede di Kota Serang), dalam Jurnal Candrasangkala Vol. 3 No.1 Tahun 2017. Banten: Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sultan Ageng (file:///E:/WA%20BARU/Downloads/2882-6531-1-SM.pdf. diakses 2 Desember 2020)

Irhandayaningsih, Ana. 2018. œPelestarian Kesenian Tradisional sebagai Upaya Dalam Menumbuhkan Kecintaan Budaya Lokal di Masyarakat Jurang Blimbing Tembalang dalam Jurnal Anuva Volume 2, no. 1 tahun 2018. Semarang: Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro. (hal.19-27) (https://core.ac.uk/download/pdf/234033991.pdf., diakses 2 Desember 2020).

Kasdi, Aminuddin. 2003. Perlawanan Penguasa Madura Atas Hegemoni Jawa (Relasi Pusat Daerah Pada Periode Akhir Mataram (1726-1745). Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2003) 254.

Mulyana, Sri. 1977. Wayang dan Karakter Wanita. Jakarta: Gunung Agung.

Rahayu, Eko Wahyuni. 2019. œAdegan Gandrung Dalam Pergelaran Dramatari Topèng Ḍhâlâng Slopeng Sebagai Pertunjukan Budaya Masyarakat Sumenep Madura. Disertasi untuk memenui sebagian persyaratan mencapai derajat S3 di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Rahayu. 2018. œRokat Pandhâbâ Sebagai Pertunjukan Budaya Masyarakat Madura Di Kabupaten Sumenep, dalam Jurnal Gêtêr, Vol.1, No.1, tahun 2018 (hal. 9-22)

Sedyawaati, Edi. 1986. œTari Sebagai Salah Satu Pernyataan Budaya, dalam Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Permasalahan Tari. Jakarta: Direktorat Kesenian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Soedarsono, R.M. dan Tati Narawati, Dramatari di Indonesia, Kontinuitas dan Perubahan. Yogyakarta: Gadjah Mada Universiy Press, 2014.

Soelarto, B. 1977. Topeng Madura (Topong). Jakarta: Dep. P. & K.

Tim Peneliti. 2001. œTari Rondhing dan Tari Topeng Gettak Sebagai Salah Satu Unggulan Pamekasan. Pamrkasan: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pamekasan.

Tim Penyusun. 2016. Pamekasan Dalam Sejarah. Pamekasan: Pemda Kabupaten Pamekasan

Tim Penulis Sena Wangi. 1999. Ensiklopedi Wayang Indonesia Jilid 1 (A-B). Jakarta: Sena Wangi.

Timoer, Soenarto. 1979/1980. Topeng Dhalang di Jawa Timur. Jakarta: Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Downloads

Published

2021-04-30

Issue

Section

Editorial
Abstract View: 51