PERFORMA ALGORITMA K-MEANS DALAM PENGELOMPOKAN KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI PAPUA BERDASARKAN FAKTOR PENYEBAB STUNTING

Authors

  • Nicea Roona Paranoan Program Studi Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua
  • Caecilia Bintang Girik Allo Program Studi Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua
  • Bobi Frans Kuddi Program Studi Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua
  • Aryanto Program Studi Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua
  • Winda Ade Fitriya B. Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua
  • Rita Raya Program Studi Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua

DOI:

https://doi.org/10.26740/jram.v10n2.p223-233

Abstract

Stunting merupakan permasalahan gizi kronis akibat kekurangan nutrisi jangka panjang, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan anak. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Provinsi Papua mencapai 34,6%, menunjukkan tingkat yang masih tinggi sehingga diperlukan strategi efektif untuk penanganannya. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik masing-masing Kabupaten/Kota melalui analisis klaster. Penelitian ini bertujuan mengelompokkan Kabupaten/Kota di Papua berdasarkan faktor-faktor yang memengaruhi kejadian stunting. Data yang digunakan berasal dari SSGI 2022 yang dilaksanakan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI, mencakup kondisi sebelum pemekaran wilayah. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan pendekatan berbasis data (data driven) dengan algoritma machine learning K-Means untuk pemetaan spasial determinan stunting secara regional, menggantikan pendekatan deskriptif dan statistik konvensional. Pendekatan ini menghasilkan gambaran empiris mengenai kesamaan karakteristik antarwilayah dan mendukung penyusunan kebijakan intervensi gizi yang berbasis bukti (evidence based policy). Hasil analisis menunjukkan algoritma K-Means menghasilkan dua kelompok optimal dengan nilai Silhouette Coefficient Index (SC) sebesar 0,34. Kelompok pertama terdiri dari 21 Kabupaten/Kota yang dipengaruhi oleh faktor bayi usia 0–5 bulan yang tidak mendapatkan ASI eksklusif dan balita dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram. Kelompok kedua mencakup 3 Kabupaten/Kota yang lebih dipengaruhi oleh faktor tidak mendapatkan inisiasi menyusui dini, anak tidak menerima vitamin A, kurangnya asuransi kesehatan, ibu hamil dengan konsumsi tablet zat besi rendah, serta akses air minum yang tidak layak.

Downloads

Published

17-10-26
Abstract views: 15 , PDF Downloads: 11